Pecinta Sejarah Hyperlokal Sayangkan Perobohan Bangunan Tua Bergaya Arsitektur Indische Dekat Stasiun Maja

Bangunan tua di dekat Stasiun Maja, Lebak dirobohkan. (Foto: Muhamad Iqbal)

SEKITARMAJA.COM, MAJA – Jika Anda kerap menggunakan sarana transportasi umum Commuterline untuk bepergian keluar Maja, pasti Anda pernah melihat bangunan tua satu ini di seberang Pasar Maja. Jaraknya sangat dekat dengan Stasiun Maja saat ini. Sayangnya pada Kamis (12/2/ 2026), bangunan tua tersebut telah rata dengan tanah.

Menurut Muhamad Iqbal selaku penulis buku Maja dari Masa ke Masa dan pecinta sejarah hyperlokal Maja, dirobohkannya (mungkin) bangunan tua terakhir bergaya arsitektur Indische di wilayah Maja ini patut disayangkan. Hal itu karena belum ada catatan/ tulisan historis mengenai bangunan ini, ungkapnya. Padahal dengan mempertahankan bangunan itu dan mencatat sejarah yang berada di balik pendiriannya dahulu, warga dan generasi penerus di Maja bisa mengingat akar sejarah mereka.

“Bangunannya sangat besar dan khas bergaya Indische dengan tata letak dapur dan sumur MCK terpisah. Di Rangkas memang masih banyak bangunan serupa, tapi kalau di Maja setelah bangunan stasiun lama dan di bangunan di perkebunan Silalangu dibongkar, sepertinya bangunan di dekat pasar itu bangunan tua yang terakhir,” terang Iqbal.

BACA JUGA: “Penulis Buku ‘Maja dari Masa ke Masa’ Beberkan Tantangan Menulis Sejarah ‘Hyperlocal’ Maja”

Gaya arsitektur Indische semacam ini populer saat masa kolonial Belanda berkat adanya proses akulturasi yang unik antara gaya arsitektur Perancis Empire Style yang disesuaikan sedemikian rupa dengan kondisi iklim tropis Indonesia dan ketersediaan material bangunan lokal.

Akar gaya arsitektur ini adalah Gaya Indo-Eropa atau Gaya Hindia Lama yang mulai muncul sekitar abad ke-18. Gaya seperti ini banyak diterapkan di rumah-rumah pedesaan mewah (landhuis) yang digunakan sebagai tempat peristirahatan milik para pejabat kaya VOC di pinggiran Batavia.

Gaya Hindia Baru populer di abad ke-20 saat muncul para arsitek baru Belanda yang berdatangan ke Hindia Belanda (Indonesia sebelum kemerdekaan). Ciri-ciri khas bangunan dengan gaya ini ialah fasad ganda, atap dengan overstek lebar, ukuran jendela dan pintu yang banyak dan besar, dsb. Contoh khas bangunan dengan gaya ini ialah Lawang Sewu di Semarang. (*/)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top