Penulis Buku ‘Maja dari Masa ke Masa’ Beberkan Tantangan Menulis Sejarah ‘Hyperlocal’ Maja

Muh. Iqbal ungkap tantangan yang ia hadapi selama melakukan riset untuk bukunya Maja dari Masa ke Masa (2025). (Foto: Dok. MBP)

SEKITARMAJA.COM, MAJA – Menulis buku soal sejarah bukanlah pekerjaan yang mudah. Setidaknya inilah yang dialami oleh Muhamad Iqbal yang kemarin menceritakan proses kreatif di balik penulisan bukunya soal sejarah kawasan Maja, Kabupaten Lebak, Banten.

Bukunya bertajuk Maja Dari Masa ke Masa (2025) yang diterbitkan oleh Penerbit Independen Koji (Koperasi Jasa Jurnalis Independen) baru-baru ini diluncurkan dan diperkenalkan ke publik melalui diskusi buku yang digelar klub buku Maja Book Party di Toko Buku Peach, Citra Maja City, Sabtu siang kemarin (13/9).

Di catatan sejarah nasional, Maja hanyalah sebuah area kecil yang meski jaraknya dari ibu kota hanya 1,5 jam naik kereta tapi serasa jauhnya sama dengan Papua. Banyak orang di Jakarta yang belum pernah mendengar nama Maja sebelumnya. Celetukan dan label “daerah antah berantah” masih diterima oleh Maja.

Istilah ‘hyperlocal’ sendiri mengacu pada area yang sangat terbatas atau lingkupnya kecil, seperti Maja sebagai bagian dari kabupaten Lebak dan Provinsi Banten yang lebih besar.

Tantangan yang pertama menurut Iqbal ialah kepercayaan diri. Menurutnya, ia merasa belum sekompeten sejarawan. Ia sendiri seorang jurnalis yang masih aktif bekerja di IDN Times. Ia menulis buku ini di sela kesibukan sebagai wartawan.

“Kayaknya saya nggak pantes deh nulis ini,” tuturnya pada hadirin di Maja Book Party, sebuah klub diskusi buku yang bermarkas di Citra Maja City, Lebak.

Tantangan berikutnya ialah sumber-sumber arsip lokal yang menurut Iqbal masih sangat terbatas. 

“Contohnya di sini ada area yang disebut sebagai cagar budaya berupa makam. Pemerintah Lebak menamakan TPU Malaka sebagai cagar budaya di dekat Permata Mutiara Maja. Menurut saya buku tersebut masih kurang lengkap (dalam menjelaskan mengapa area itu pantas disebut sebagai cagar budaya -pen),” ungkap Iqbal. Ia masih mempertanyakan nilai historis dan nilai budaya di balik area yang dimaksud sehingga pantas disebut sebagai cagar budaya.

Keterbatasan arsip tulisan ini berkaitan erat dengan pencocokan kisah yang dituturkan oleh para saksi mata yang masih hidup dan bisa diwawancarai. Minimnya arsip membuat penulis buku sejarah hyperlocal seperti Iqbal harus puas dengan mengandalkan ingatan saksi mata.

“Misalnya seperti Mbah Ngadirin yang mantan kepala Stasiun Maja. Masalahnya saya tak bisa mengonfirmasi kisah beliau dengan catatan atau dokumentasi,” ungkapnya.

Misalnya Mbah Ngadirin menuturkan berdasarkan ingatannya bahwa pernah terjadi kecelakaan besar di Maja. Namun, karena liputan media massa atau catatan internal KAI saat itu tidak ada, atau jika ada dokumentasinya sudah hilang entah ke mana, Iqbal akhirnya harus pasrah dengan kemampuan ingatan sumbernya.

Bahkan jika sebuah kejadian skalanya cukup besar dan menjadi ingatan kolektif (bersama), verifikasi dengan arsip atau dokumen masih diperlukan. Contohnya saja saat Iqbal dihadapkan dengan peristiwa kecelakaan di area bernama Gonggo yang dikenal luas oleh masyarakat Maja dan bahkan Lebak.

Di Gonggo ini terdapat terowongan yang dibangun Belanda yang dibongkar pemerintah tahun 2014 untuk dibangun Commuter Line. Karena di masa tahun 1970-an hingga 2000-an, banyak orang masih nekat naik kereta di atap gerbong, korban banyak yang berjatuhan. Mayoritas tewas di tempat begitu kepala mereka terhantam dinding terowongan. Dan setidaknya ada satu yang mengalami amputasi satu kaki dan bertahan hidup. Setidaknya 30 jiwa melayang selama Mbah Ngadirin bekerja sebagai Kepala Stasiun Maja. Hal ini perlahan hilang begitu KAI melarang keras perilaku naik ke gerbong kereta. 

Iqbal mengajak masyarakat terutama jurnalis di sekitar Maja untuk terus mendokumentasikan perkembangan Maja agar generasi mendatang bisa mendapatkan kisah-kisah sejarah yang membuat kita bisa berpikir lebih bijak lagi di masa datang untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. (*/)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top