Ini Penyebab Literasi Masyarakat di Banten Masih Rendah

SEKITARMAJA.COM, MAJA – Literasi di Provinsi Banten belum setinggi provinsi lainnya karena setidaknya 2 faktor utama. Yang pertama ialah kualitas pendidikan yang masih belum memenuhi standar. Kemudian masih kurangnya minat/ motivasi masyarakat untuk belajar lebih mendalam mengenai sesuatu hal. Minat ini hendaknya tidak cuma sebatas mendengar atau menonton lalu menyebarkan di media sosial tanpa menelaah lebih lanjut tetapi juga menganalisis lebih lanjut melalui membaca buku. Hal ini dikemukakan oleh anggota Komisi V DPRD Provinsi Banten Yeremia Mendrofa melalui Banten TV (18/7).

“Ketika ada kemampuan literasi, (masyarakat -red) tidak hanya melihat dan membaca sepintas tapi juga menelaah lebih lanjut sehingga bisa mengetahui berita yang benar dan tidak,” terangnya.

Namun, kini pemerintah yang diwakili oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan dengan bekerjasama dengan Komisi V DPRD Banten mencoba mengatasi rendahnya tingkat literasi masyarakat Banten.

“Upaya pertama ialah dengan menguatkan infrastruktur literasi dengan menggandeng Taman Bacaan Masyarakat (TBM) yang sudah kami bina dalam program Transformasi Berbasis Inklusi Sosial yang menjadi program unggulan Perpusnas,” terang Tunul Lasniatin selaku Kabid Perpustakaan dan Kearsipan Banten.

Ia juga menyinggung soal program literasi di sekolah dan masyarakat Banten terutama yang menjadi kewenangan Pemprov seperti SMK, SMA, dan sebagainya.

“Kami juga menyentuh perpustakaan-perpustakaan desa di kelurahan,” ucap Tunul.

Di samping itu, ada program digitalisasi dan literasi informasi yang menurut Tunul diwujudkan dalam bentuk pembuatan ebook Banten untuk ‘menjemput bola’ soal masalah literasi ini.

Juga diluncurkan Relima (Relawan Literasi Masyarakat) dari Perpusnas yang digaungkan di Banten.

Yeremia menambahkan 2-3 tahun belakangan pihaknya Komisi V DPRD Banten dan Dinas Perpustakaan Banten juga menggerakkan Program Gerakan Banten Membaca (GBM).

“GBM ini digalakkan di masyarakat dan sekolah-sekolah. Juga ada upaya memperbanyak jumlah Taman Bacaan Masyarakat (TBM) yang ada di level RT dan RW serta perpustakaan bergerak (mobile library),” jelas Yeremia.

Tantangan semua upaya membangkitkan literasi masyarakat ini berupa keterbatasan anggaran, ungkap Yeremia. Menurutnya, masalah literasi dan kepustakaan masih dinomorsekiankan oleh para pembuat kebijakan. (*/)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top